Kiai Raja, Raja Kiai
Oleh: Mudrik Qori
Istilah “raja kecil” untuk kiai pimpinan pesantren mengandung unsur kebenaran, tetapi juga berpotensi menjadi stereotip yang tidak adil jika digeneralisasi.
Mengapa muncul istilah itu?
Karena banyak pesantren dibangun oleh seorang kiai, dibesarkan oleh visi seorang kiai, dibiayai melalui jaringan kepercayaan kepada seorang kiai, dan bertahan karena kharisma seorang kiai. Akibatnya, otoritas kiai sering sangat besar, bahkan lebih besar daripada rektor universitas atau Bupati sekalipun.
Sisi Positif “Raja Kecil”
Keputusan cepat
Tidak terjebak birokrasi panjang.
Konsisten dengan visi
Pesantren memiliki arah yang jelas karena satu komando.
Kharisma pemersatu
Ribuan santri, guru, alumni, dan wali santri dapat bergerak karena kepercayaan kepada kiai.
Berani mengambil risiko
Banyak pesantren besar lahir dari keberanian pribadi kiai, bukan hasil rapat.
Menjadi simbol moral
Kehidupan kiai sering menjadi teladan langsung bagi masyarakat.
Sisi Negatif “Raja Kecil”
Sulit menerima kritik
Karena terlalu lama menjadi pihak yang didengar, bukan mendengar.
Merasa paling benar
Pengalaman panjang kadang berubah menjadi keyakinan bahwa pendapatnya selalu tepat.
Kultus individu
Lembaga menjadi bergantung pada figur, bukan sistem.
Kurang kaderisasi
Semua keputusan kembali kepada kiai sehingga generasi berikutnya tidak terlatih.
Sensitif terhadap pengakuan
Ingin dihormati, disebut, diundang, atau diapresiasi.
Kompetisi status
Kadang terjadi perbandingan diam-diam: jumlah santri, luas tanah, tamu pejabat, cabang, atau gedung.
Yang Perlu Diwaspadai
Menurut saya, bahaya terbesar bukan kekuasaan.
Bahaya terbesar adalah kesepian intelektual.
Semakin tinggi posisi seorang kiai, semakin sedikit orang yang berani berkata:
“Kiai, saya kira pendapat itu perlu dipertimbangkan kembali.”
Ketika semua orang hanya mengangguk, seorang pemimpin kehilangan cermin.
Yang Patut Diteladani
Dari kiai-kiai besar yang dikenang sejarah, biasanya ada tiga ciri:
• Tawadhu’ meskipun berpengaruh.
• Mau mendengar meskipun berilmu.
• Mau mengalah meskipun mampu menang.
Lihat figur seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, atau KH Zainuddin Abdul Madjid. Yang dikenang bukan hanya pengaruhnya, tetapi kerendahan hatinya.
Seharusnya Bagaimana?
Kiai memang harus memimpin seperti raja dalam tanggung jawab, tetapi tidak seperti raja dalam kemuliaan.
Memimpin dengan kewibawaan, bukan keangkuhan.
Memiliki otoritas, tetapi tetap membuka ruang musyawarah.
Dihormati karena akhlaknya, bukan karena jabatannya.
Ada ungkapan yang menurut saya tepat:
“Pesantren besar tidak lahir karena kiai yang selalu merasa benar, tetapi karena kiai yang selalu mau belajar.”
Dan ujian terbesar seorang kiai sering bukan saat memulai pesantren dari nol, melainkan saat pesantrennya sudah besar, namanya sudah masyhur, dan semua orang memujinya. Pada titik itulah tawadhu’ menjadi lebih sulit daripada membangun gedung.
Seseorang berkata dg kesal :
Kiyai, memangnya siapa
Ia sendiri menjawab :
Bukan Tuhan
Bukan Nabi
Jangan seenaknya mengaku Wali
Prof DR, bangga, memangnya syarat masuk Syurga
Gelar itu pula yg meninabobokkan menuju kesyirikan
Atau merasa lebih hebat dari Al-Quran dan Al-Hadits
Atau merasa setengah Nabi
Atau merasa lebih pintar dari Al-Farabi, Al-Ghazali, dan Ibnu Kholdun.
Selamat tahun baru Islam
1448 H
—-
1 Muharram 1448 H
16 Juni 2026
Mudrik Qori
PP Al-Ittifaqiah Indralaya
Ogan Ilir Sumsel Indonesia

Comments are Closed